Sosialisasi dan Edukasi Obat Generik dan Obat Paten di Kalangan Ibu PKK

Yuni Andriani, Lutfi Hidiyaningtyas, Hilfa Rahmadhani

Abstract


Obat berperan penting dalam kesehatan dalam mencegah, menyembuhkan, serta pemeliharaan atau peningkatan kualitas kehidupan. Sekitar sepertiga penduduk global mengalami kesulitan dalam mengakses obat-obatan karena tingginya harga obat, dan prevalensi ini meningkat hingga 50% pada negara-negara berkembang. Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan No. 02.02/Menkes/068/I/2010, pemerintah mengatur penggunaan obat generik untuk menjamin masyarakat mendapatkan obat dengan harga lebih murah sehingga dapat menghemat biaya pengobatan, baik bagi individu maupun pemerintah dalam program jaminan kesehatan. Obat generik menurut Permenkes No. 089/Menkes/Per/1/1989 merupakan obat dengan nama resmi yang ditetapkan dalam Farmakope Indonesia untuk zat berkhasiat yang dikandungnya. Obat generik terbagi menjadi dua jenis, yakni obat generik berlogo dan obat generik bermerek. Obat generik berlogo (OGB) yaitu obat jadi dengan nama generik yang diedarkan dengan mencantumkan logo khusus pada penandaannya. Obat generik bermerek adalah obat yang telah diberi nama dagangnya oleh perusahaan dan umumnya kualitasnya sama dengan obat generik berlogo namun dengan harga relatif lebih tinggi. Penggunaan obat generik di Indonesia secara umum memiliki pasar sekitar 7% apabila dibandingkan dengan pasar dari obat bermerek. Hal ini disebabkan anggapan dari masyarakat bahwa obat generik memiliki mutu yang lebih rendah daripada produk dengan merek dagang. Kesadaran masyarakat terhadap obat generik masih tergolong rendah, dan banyak masyarakat yang menganggap obat generik sebagai obat kelas menengah ke bawah karena harganya yang murah. Jika masyarakat kurang tertarik pada obat generik, kemungkinan untuk memilih membeli obat bermerek tanpa berkonsultasi dengan dokter sangat tinggi. Hal tersebut bisa meningkatkan risiko penggunaan obat yang tidak sesuai indikasi, dosis yang salah, atau bahkan interaksi obat yang berbahaya. Faktor yang dapat mempengaruhi persepsi masyarakat terhadap obat generik di antaranya tingkat pengetahuan dan ketersediaan informasi. Kurangnya pengetahuan dan informasi dapat menyebabkan persepsi yang buruk terhadap obat generik. Rencana kegiatan pengabdian masyarakat ini sudah sesuai dengan roadmap pengabdian dosen yakni memberikan penyuluhan kepada masyarakat terkait promosi penggunaan obat generik. Kegiatan pengabdian ini berhasil meningkatkan pengetahuan peserta terkait obat generik dan obat generik bermerek pada tingkat pengetahuan baik (75%).


Keywords


Sosialisasi; Edukasi; Obat Generik; Obat Paten

Full Text:

PDF

References


Departemen Kesehatan RI, Undang-undang (UU) Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan T.E.U. Jakarta, 2019.

I. Sutiawan, “MMB Health Trends 2024 Prediksi Biaya Medis di Indonesia Tumbuh 13% Artikel ini telah tayang di halaman gatra.com dengan judul ‘MMB Health Trends 2024 Prediksi Biaya Medis di Indonesia Tumbuh 13%, Gatra, Jakarta, 2024.

Kemenkes RI, Peraturan Menteri Kesehatan No. 02.02/Menkes/068/I/2010 . 2010.

R. Fitriah, M. Mahriani, and I. M. Nurrahma, “Gambaran Tingkat Pengetahuan Masyarakat Tentang Obat Generik di Kelurahan Keraton Kecamatan Martapura Kabupaten Banjar,” Jurnal Pharmascience, vol. 6, no. 2, p. 120, Nov. 2019, doi: 10.20527/jps.v6i2.7358.

Debora, Veronica, Oktarlina, and Rasmi Zakiah, “Perbedaan Tingkat Pengetahuan, Persepsi, dan Pengalaman Terhadap Penggunaan Obat Generik Pada Mahasiswa Kedokteran dan Non Kedokteran Di Universitas Lampung,” Majority, vol. 7, no. 2, pp. 24–33, 2018.

Riskesdas, “Riset kesehatan dasar ,” 2013.

Nataraj Gr, Bharathi, “A Study On Prescribing Pattern In Geriatric Patients,” Asian Journal of Pharmaceutical and Clinical Research, pp. 120–123, Jul. 2019, doi: 10.22159/ajpcr.2019.v12i9.33378.

Khairunnisa and M. R. Ananda, Penggunaan Obat Pada Pasien Geriatri Di Instalasi Rawat Jalan Rumah Sakit Universitas Sumatera Utara. Majalah Farmasi dan Farmakologi, vol. Special Issue:6-10, Aug. 2023, doi: 10.20956/mff.SpecialIssue.

Y. Wulandari, M. Dewi, and I. D. Kusumaningrum, “Hubungan Tingkat Pendidikan Dengan Pengetahuan Pasien Tentang Obat Generik Dan Paten,” Jurnal Farmasetis, vol. 5 (2), Aug. 2016.

N. Mardiati and D. O. Akbar, “Analisis Persepsi Terhadap Obat Generik Masyarakat Di Kabupaten Banjar,” Medica Farma Husada, vol. 4, no. 2, pp. 104–111, Oct. 2018.

V. Verawaty, I. P. Dewi, and F. M. Kota, “Tingkat Pemahaman Tenaga Teknis Kefarmasian Terhadap Obat Paten Dan Obat Generik Di Kota Padang,” Jurnal Riset Kefarmasian Indonesia, vol. 4, no. 1, pp. 24–33, Jan. 2022, doi: 10.33759/jrki.v4i1.230.

A. Nur, “Tingkat Pengetahuan Masyarakat Tentang Obat Generik Dan Obat Paten Di Kecamatan Sajoanging Kabupaten Wajo,” ournal of Pharmaceutical Science and Herbal Technology, vol. 3, no. 1, pp. 47–56, 2018.

Md. I. Hasan, S. A. Shimu, A. Akther, I. Jahan, Md. Hamiduzzaman, and A. H. M. N. Hasan, “Development of Generic Drug Products by Pharmaceutical Industries Considering Regulatory Aspects: A Review,” J Biosci Med (Irvine), vol. 09, no. 10, pp. 23–39, 2021, doi: 10.4236/jbm.2021.910003.




DOI: https://doi.org/10.62411/ja.v9i2.3147

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2026 Yuni Andriani



Jurnal ABDIMASKU (p-ISSN : 2615-3696e-ISSN : 2620-3235) diterbitkan oleh LPPM Universitas Dian Nuswantoro Semarang. Jurnal ini di bawah lisensi Creative Commons Attribution 4.0 International License.

Statcounter

View My Stats

 

ABDIMASKU terindeks di :